Jumat, 27 Mei 2011

Tugas Family Tree (Psikologi Lintas Budaya)




Significant Others yang Mempengaruhi Pembentukan Sifat (Kepribadian)

            Significant others yang mempengaruhi pembentukan sifat (kepribadian) saya adalah papa (Lukman), mama (Yuliani), mak uwo (Asni), ibuk (Jusni), pakdang (Rusydi), dan pak etek (Halim). Pengaruh lingkungan yang paling besar tampaknya terjadi pada masa awal kehidupan (McGue,1997 dalam Papalia, 2008). Hal ini terbukti dengan adanya kecenderungan saya untuk menjadikan papa dan mama sebagai significant others saya di awal kehidupan saya.
            Papa dan mama saya adalah orang Minang yang sama-sama perantau di Nusa Tenggara Timur (NTT). Papa berasal dari Bukittinggi dan mama berasal dari Padang. Mereka bertemu, menikah, dan menjalani kehidupan bersama di NTT. Saya dan adik saya pun dilahirkan di NTT. Kedua paman saya yang dari pihak papa, yaitu pakdang (Rusydi)  dan pak etek (Halim) juga sama-sama perantau di NTT. Mereka tinggal serumah dengan keluarga saya (papa, mama, adik). Sehingga kedua paman saya tersebut juga ikut mempengaruhi pembentukan sifat (kepribadian) saya.
            Saat saya kelas 5 SD, saya dipindahkan ke Padang oleh orang tua saya. Saya tinggal di Padang bersama keluarga mama karena orang Minang menganut sistem matrilineal. Dua tahun kemudian, adik saya pun juga dipindahkan ke Padang. Kami diasuh oleh kakak dari mama, yaitu mak uwo (Asni) dan ibuk (Jusni). Rumah mak uwo dan ibuk saya bersebelahan sehingga kedua rumah tersebut menjadi tempat tinggal saya di Padang. Oleh karena itu, mak uwo dan ibuk saya juga menjadi significant others buat saya dan adik.
            Kepindahan saya dari NTT ke Padang membawa perubahan besar dalam hidup saya. Budaya Minang sudah membentuk saya sehingga saya juga memiliki karakteristik yang dimiliki oleh orang Minang pada umumnya, meskipun saya tidak dilahirkan di Minang. Saya yang awalnya tidak bisa mempraktikkan bahasa Minang (hanya mengerti tapi tidak bisa mengucapkan) kini sudah bisa menggunakan bahasa Minang dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga terjadi perubahan dalam hal religius. Saya yang awalnya tinggal di NTT yang mayoritas penduduknya beragama Kristen sekarang tinggal di Padang yang masyarakatnya mayoritas Islam. Sejak di Padang, saya jadi lebih taat beragama karena dipengaruhi lingkungan sekitar.

1.      Papa
Nama                           : Lukman
Etnis                            : Minang (suku Tanjung)
Pekerjaan                     : Pedagang pakaian
Sifat yang diwariskan : Tekun, Jujur, Mandiri

            Sifat yang diwariskan papa kepada saya adalah tekun, jujur, dan mandiri. Sebagai seorang pedagang, papa saya menjadikan ketekunan dan kejujuran sebagai modal yang paling penting dalam menjalankan usahanya. Dari kecil saya diajarkan oleh papa untuk selalu jujur, terutama di sekolah. Papa melarang saya menyontek saat ujian dan melarang saya untuk membuat PR di sekolah. Ketekunan yang dimiliki oleh papa dalam menjalankan usahanya (berdagang) membuat saya juga termotivasi untuk tekun dalam belajar. Kemandirian papa juga terlihat dari keputusan papa untuk merantau di usia mudanya dari Bukittinggi ke NTT untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Hal ini juga terjadi pada saya saat saya memutuskan untuk pindah dari NTT ke Padang agar bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Selama di Padang, saya belajar untuk hidup lebih mandiri karena saya telah tinggal jauh dari orangtua. Hal ini juga saya terapkan sekarang di saat saya tinggal di Depok, jauh dari keluarga. Orang minang yang sudah terbiasa dengan kegiatan merantau membuat mereka juga terdidik untuk bisa hidup mandiri.

2.      Mama
Nama                           : Yuliani
Etnis                            : Minang (suku Jambak)
Pekerjaan                     : Ibu rumah tangga
Sifat yang diwariskan : Penyayang, Pencemas, Penurut, Suka mengeluh

            Sifat yang diwariskan mama kepada saya adalah penyayang, pencemas, penurut, dan suka mengeluh. Mama adalah anak bungsu yang dulunya menjadi anak kesayangan dari kakek dan nenek. Hal ini yang menyebabkan mama tumbuh menjadi orang yang penyayang dan memperlakukan anak-anaknya seperti beliau diperlakukan oleh kakek dan nenek. Sifat penyayang ini akhirnya menurun kepada saya. Mama menanamkan sifat penyayang kepada saya dan adik dengan cara memberikan pengertian kepada kami bahwa sekarang kami berada di perantauan (di NTT) sehingga kami harus saling melindungi, saling menyayangi satu sama lain.
            Sifat penyayang yang berlebihan ini kadang membuat mama menjadi orang yang over protective. Mama sering cemas yang berlebihan saat saya atau adik sedang sakit, meskipun sakitnya hanyalah sakit ringan seperti flu dan batuk. Hal ini juga ternyata menurun kepada saya. Setiap akan mengikuti ujian di sekolah, saya akan merasakan rasa cemas yang berlebihan. Saya cemas jika nantinya saya tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan baik. Rasa cemas ini yang membuat saya dan mama juga sama-sama menjadi orang yang suka mengeluh. Mama sering mengeluh ke papa jika saya sakit. Mama merasa menjadi orang tua yang gagal dalam menjaga anaknya dengan baik. Saya juga sering mengeluh ke mama jika saya mendapatkan nilai ujian yang tidak sesuai dengan harapan saya.
            Selain sifat penyayang, pencemas, dan suka mengeluh, sifat yang juga diturunkan mama kepada saya adalah penurut. Mama yang dibesarkan di budaya minang selalu diajarkan untuk menjadi anak yang patuh kepada orang tua. Mama tumbuh menjadi anak yang patuh kepada kakek dan nenek. Hal ini juga yang akhirnya menurun kepada saya sehingga saya tumbuh menjadi anak yang patuh dan penurut kepada orang orang tua dan orang yang lebih tinggi tingkatannya dari saya.

3.      Mak uwo/ tante dari pihak mama
Nama                           : Asni Hosen
Etnis                            : Minang (suku Jambak)
Pekerjaan                     : Guru Sekolah Dasar (SD)
Sifat yang diwariskan : Bijaksana, Kreatif

Sifat yang diwariskan mak uwo kepada saya adalah bijaksana dan kreatif. Mak uwo saya tumbuh menjadi orang yang bijaksana karena tuntutan keadaan. Sebagai anak sulung, mak uwo saya memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengayomi keluarga sejak meninggalnya kakek dan kemudian nenek di masa dewasa muda mak uwo. Dalam keluarga mama, mama juga tidak memiliki saudara laki-laki sehingga kewajiban ini otomatis turun kepada mak uwo saya. Sifat bijaksana ini kemudian turun kepada saya. Saya belajar untuk bisa menjadi orang yang bijaksana di saat saya tinggal bersama mak uwo saya. Setiap saya menghadapi masalah, saya akan menceritakannya kepada mak uwo saya dan mak uwo saya lah yang mengajarkan saya untuk bisa berlaku bijaksana dalam menghadapi setiap masalah.
Mak uwo saya orang yang kreatif sebagaimana wanita minang lainnya. Dari kecil, pada umumnya wanita minang diajarkan untuk menjahit, merenda, dan menyulam. Dalam kehidupan sehari-hari sejak saya pindah ke Padang dan tinggal bersama mak uwo saya, saya sering melihat mak uwo saya menjahit, menyulam, dan merenda. Hal ini kemudian yang mengajarkan saya untuk bisa menjadi orang yang kreatif.

4.      Ibuk/ tante dari pihak mama
Nama                           : Jusni
Etnis                            : Minang (suku Jambak)
Pekerjaan                     : Ibu rumah tangga
Sifat yang diwariskan : Disiplin

Sifat yang diwariskan ibuk kepada saya adalah disiplin. Berbeda dengan mama dan mak uwo saya, ibuk saya adalah tipe orang yang keras dan disiplin. Selama saya tinggal di Padang, saya sudah dididik oleh ibuk saya untuk menjadi orang yang disiplin terutama disiplin dalam  hal waktu. Ibuk saya selalu mengajarkan bagaimana cara menjadi wanita minang yang disiplin, bangun di pagi hari dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan wanita minang pada umumnya, seperti membersihkan kamar dan rumah.

5.      Pak dang / paman dari pihak papa
Nama                           : Rusydi
Etnis                            : Minang (suku Tanjung)
Pekerjaan                     : Pedagang pakaian
Sifat yang diwariskan : Sopan
           
            Sifat yang diwariskan pak dang kepada saya adalah sopan. Pak dang saya dikenal sebagai anak yang paling sopan dalam keluarga papa. Pak dang saya yang selalu mengajarkan saya bagaimana cara menjadi wanita minang yang sopan. Pak dang saya selalu mengatakan bahwa wanita minang sopan dalam berpakaian, berbicara, dan bertingkah laku. Di minang, wanita pada umumnya memakai pakaian yang sopan seperti baju kuruang dan pada umumnya berjilbab (menutupi aurat). Pak dang saya juga mengajarkan bagaimana cara duduk, yaitu untuk perempuan minang diharuskan duduk basimpuah (bersimpuh). Saya juga diajarkan oleh pak dang bagaimana cara berbicara dengan orang yang lebih tua (kato mandaki), berbicara dengan orang yang sebaya (kato malereang), dan berbicara dengan orang yang lebih muda (kato manurun). Sehingga kemudian saya bisa menerapkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari saya.
           
6.      Pak etek/ paman dari pihak papa
Nama                           : Halim
Etnis                            : Minang (suku Tanjung)
Pekerjaan                     : Petani
Sifat yang diwariskan : Pemalu

                        Pak etek saya adalah anak bungsu di keluarga papa. Pak etek adalah orang yang pemalu dan sangat jarang bicara. Hal ini juga menurun kepada saya. Saya tumbuh menjadi orang yang pemalu dan pendiam. Tapi biasanya hal ini terjadi jika saya berada di lingkungan baru. Jika saya sudah sangat mengenal orang-orang di sekitar saya, maka biasanya rasa malu saya akan menurun dan saya mulai untuk berani berbicara.

Tugas Enterpreneurial (rancangan kehidupan 10 tahun ke depan)

APPENDIX A: GOAL-SETTING EXERCISE
A) Putting things into perspective
Usia saat ini : 20 tahun (di tahun 2011)
Timeline untuk 10 tahun ke depan (sampai usia 30 tahun) dibagi dalam beberapa jangka waktu (per dua tahun).
B) Setting goals for your future
Usia
Work
Family
Personality
Contacts
20 – 22 thn
(2011-2013)
-    IP Semester 4,5,6,7 dan 8 di atas 3,41
-    Di semester 5 mengambil peminatan Psi Pendidikan & Psi Perkembangan
-    Menamatkan studi S-1 Psikologi UI di semester ke 8 (tahun 2013) dengan IPK diatas 3,43
-   Membantu adik belajar sebagai persiapan mengahadapi SNMPTN pada bulan Mei 2013

-    Magang di Klinis Anak pada bulan Juni tahun 2012 dan mendapatkan pengalaman di bidang klinis anak
-   Menjalankan proker Bid Survey & Riset (Sunrise) Org. FUSI 13 Psikologi masa jabatan 2011-2012
22 – 24 thn
(2013-2015)
-    Menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Kota Padang pada usia 23 tahun
-   Memiliki pasangan (pacar) pada usia 23 tahun

-   Mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris dengan mengikuti les TOEFL & nilai TOEFL mencapai 550 di usia 24thn
-   Mengadakan reunian bersama teman kelas 3 SMA setiap 6 bulan sekali pada tahun 2013-2015
24 – 26 thn
(2015-2017)
-    Mengambil Magister Klinis Anak di UI pada tahun 2015 dan menamatkannya tahun 2017
-   Bertunangan dengan pacar di usia 25 tahun
-    Mengikuti kursus memasak sebagai persiapan sebelum menikah di tahun 2017
-   Tahun 2015-2017 berusaha mengumpulkan informasi beasiswa S3 ke luar negeri untuk pendidikan psikologi
26 – 28 thn
(2017-2019)
-    Menjadi dosen tetap di salah satu universitas negeri di Kota Padang pada tahun 2017 dan mulai membuka praktek klinis anak
-    Menikah dengan pasangan pada tahun 2017
-    Memiliki anak pertama di tahun 2019
-    Mendapatkan pengalaman dalam mengurus rumah tangga (suami dan bayi) pada tahun awal pernikahan (2019)
-   Aktif di lembaga kemasyarakatan seperti pengajian ibu-ibu pada tahun 2019 (setelah menikah)
28 – 30 thn
(2019-2021)
-    Menduduki jabatan penting di bagian dekanat di universitas tempat mengajar pada tahun 2020
-    Mengurus orang tua yang sudah memasuki dewasa madya (mulai pensiun) di tahun 2019 dst
-    Mengikuti minimal 3 seminar dalam 1 tahun dalam rangka pengembangan karir sebagai dosen
-   Aktif dalam organisasi-organisasi yang mengadakan penelitian psikologi

APPENDIX B
Pendekatan Self-Management yang digunakan :
Kesimpulan :
-         Pendekatan self- management yang sering saya gunakan adalah Complete Planning

-         Pendekatan self-management yang jarang saya gunakan adalah
Critical Point

Tugas Wawancara Enterpreneur (Psikologi Enterpreneurial)




LAPORAN HASIL WAWANCARA ENTREPRENEUR
USAHA ES POCONG MARGONDA

A.  Deskripsi Usaha
            Bagi mahasiswa Universitas Indonesia di kampus Depok, nama Es Pocong bukan lagi hal yang asing di telinga mereka. Seringkali mereka menyebut daerah Stasiun UI sebagai “Es Pocong” karena letaknya yang persis di pinggir jalan menuju Stasiun UI. Untuk sebuah usaha kecil menengah ini, trademark yang sudah melekat di ingatan semua orang tentu saja bukan menjadi tujuan usaha mereka. Menu-menu khusus yang dijual di kedai Es Pocong antara lain minuman-minuman yang diracik sendiri dan diberikan nama yang menarik minat, seperti es pocong (sirup + bubur sum-sum + pisang) atau kuntilanak (sirup stroberi + soda + susu), dan jenis-jenis minuman menarik lainnya. Selain minuman khas Es Pocong, terdapat pula makanan-makanan yang merupakan kreasi sendiri dan juga diberikan nama yang terlihat aneh, misalnya jenglot (kentang + saus spaghetti + keju) atau tempe mendoan khas Es Pocong dengan porsi cukup besar. Selain menu-menu yang unik, harga makanan dan minuman yang ditawarkan tergolong mudah untuk dijangkau masyarakat dan mahasiswa, terutama mahasiswa yang berasal dari Universitas Indonesia dan sekitarnya.

B.  Hasil Wawancara
Wawancara kami lakukan pada hari Jumat tanggal 11 Maret 2011 di Outlet Es Pocong Jalan Margonda Raya Depok. Kami mewawancarai Mas Boni, yang merupakan pegawai senior sekaligus orang yang dipercaya menjalankan usaha Es Pocong di Jalan Margonda Depok. Usaha Es Pocong ini didirikan bersama oleh Pak Rachmat, Pak Haris dan Pak Hakim pada tanggal 19 Juni 2006. Namun pada perkembangannya, yang lebih berperan menjalankan usaha ini adalah Pak Rachmat. Beberapa tahun terakhir ini, Pak Rachmat mempercayakan usaha Es Pocong di Margonda tersebut kepada istrinya, Bu Irma Saizah. Hal ini karena Pak Rachmat juga telah disibukkan dengan usaha barunya yatiu usaha ukir-ukiran, yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya, yaitu mahasiswa tamatan bidang kesenian. Sedangkan untuk pengembangan cabang-cabang es Pocong di luar Depok masih diurus langsung oleh Pak Rachmat bersama kedua temannya (Pak Haris dan Pak Hakim). Bu Irma Saizah hanya seminggu sekali datang ke outlet Es Pocong Jalan Margonda untuk melihat dan memeriksa keuangan serta usahanya. Sehari-harinya, Mas Boni lah yang mengatur semua masalah keuangan hingga melayani pelanggan.
Usaha Es Pocong bukanlah usaha yang pertama kali ditekuni oleh Pak Rachmat. Sebelumnya Pak Rahmat pernah mempunyai usaha yang lain, mulai dari menjual aksesoris, mie ayam ceker, hingga DVD bajakan. Namun usaha ini tidak berjalan dengan baik. Kemudian Pak Rachmat mencoba membangun usaha kuliner. Pak Rachmat awalnya menjual bakso dan mendoa di dekat kampus Gunadarma Depok dengan nama Warung Lorong. Kemudian mendirikan usaha yang sama lagi di daerah Kelapa Dua Depok. Kedua usaha tersebut tidak berjalan mulus. Pengunjung yang datang tidak seramai yang diharapkan. Hingga akhirnya Pak Rahmat mendapat ide dari istrinya, Bu Irma Saizah untuk mencoba membuat usaha kuliner di daerah Universitas Indonesia. Awalnya Pak Rachmat sempat pesimis terhadap usulan istrinya karena usaha sebelumnya berjalan kurang memuaskan, namun Pak Rachmat berpikir bahwa tidak ada salahnya jika mencoba. Akhirnya, Pak Rachmat memutuskan untuk mencoba usulan tersebut.
Setelah tiga bulan berdiri, usaha ini ternyata sangat ramai. Untuk menarik perhatian, Pak Rachmat yang dibantu oleh istri dan para pekerjanya mencoba menciptakan menu-menu baru dan membuat menu tersebut dengan nama-nama yang unik. Awalnya Pak Rachmat hanya dibantu oleh dua orang pekerja. Namun karena jumlah pengunjung terus bertambah, Pak Rachmat akhirnya terus menambah jumlah pekerjanya. Sehingga sekarang Pak Rachmat memiliki 13 orang pekerja dan dibantu Mas Boni sebagai pekerja yang paling senior untuk mengatur segala keperluan sehingga Pak Rachmat maupun Bu Irma tidak perlu setiap hari memeriksa usahanya.
Sekarang, kegiatan Pak Rahmat bersama kedua temannya adalah mengembangkan usaha Es pocong ini menjadi usaha waralaba. Usaha waralaba Es pocong kini sudah sangat berkembang di Indonesia dan menjadi Icon Kota Depok. Jumlah outlet Es Pocong yang ada sekitar 31 outlet.

C.  Analisis Hasil Wawancara
Usaha Es Pocong dapat digolongkan menjadi sebuah kewirausahaan karena didalam usaha tersebut terdapat proses penerapan kreativitas dan inovasi. Sebagaimana dijelaskan oleh Zimmerer (dalam Kasmir, 2007) bahwa kewirausahaan merupakan suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menetukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha). Penerapan kreativitas dan inovasi pada usaha Es Pocong ini terlihat dari usaha Pak Rachmat selaku pendiri usaha, yang terus-menerus menciptakan menu-menu yang khas dengan nama-nama yang unik. Menu-menu ini juga memiliki penyajian yang menarik dengan warna-warni dan komposisi yang khas. Menu-menu yang telah ada terus dikembangkan agar lebih menarik minat para pengunjung. Setiap menu baru yang akan dikeluarkan juga sudah melewati tahap uji dengan penuh pertimbangan yang dilakukan oleh Pak Rachmat, Ibu Irma, dan para pekerja di warung Es Pocong.
Pak Rachmat dianggap sebagai seorang wirausaha karena beliau memiliki jiwa kemandirian yang kuat, memiliki sifat kreatif dan inovatif, dan memiliki intuisi kuat untuk menangkap dan menciptakan peluang serta memiliki keberanian untuk mengambil risiko. Sebagaimana dijelaskan oleh Saidi dan Hartati (2008) bahwa wirausaha merupakan orang yang memiliki jiwa kemandirian yang kuat, mampu mensinergikan berbagai potensi dalam organisasinya, memiliki sifat kreatif dan inovatif dan memiliki intuisi kuat untuk menangkap dan menciptakan peluang serta memiliki keberanian untuk menghadapi risiko atas kesuksesan dan kegagalan bisnisnya.
Jiwa kemandirian Pak Rachmat terlihat dari bagaimana Pak Rachmat tetap menekuni usahanya meskipun beliau telah memiliki banyak pekerja. Beliau terus ikut berpartisipasi dalam pengembangan usahanya seperti dalam usaha menemukan menu-menu baru dan usaha pengembangan outlet di luar Kota Depok. Sedangkan kemampuan Pak Rachmat dalam menangkap peluang dapat dilihat dari bagaimana Pak Rachmat bisa menentukan jenis usaha yang cocok dan lokasi yang strategis untuk usaha tersebut. Usaha kuliner yang dipilih Pak Rachmat adalah jenis usaha yang memang cocok untuk didirikan di daerah sekitar kampus. Pemilihan lokasi usaha juga tepat karena berada di persimpangan jalan yang menjadi akses penghubung antara daerah kampus UI dengan daerah luar UI. Sebagian besar Mahasiswa UI yang tinggal di luar daerah kampus UI dan menggunakan angkutan umum biasanya menunggu angkutannya di simpang tersebut sehingga simpang tersebut terlihat ramai dan hal ini berpengaruh positif terhadap usaha Pak Rachmat. Bahkan mahasiswa yang kos di daerah belakang stasiun dan kober bisa menjadikan Es Pocong sebagai tempat jajanan mereka.
Sifat keberanian untuk mengambil risiko juga ada pada diri Pak Rachmat. Hal ini terlihat dari keputusan beliau untuk tetap mencoba mendirikan usaha baru meskipun pada awalnya Pak Rachmat sering mengalami kegagalan. Beliau belajar dari kegagalan sebelumnya dan berusaha melakukan perbaikan pada usahanya sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang lebih menguntungkan. Pak Rachmat memindahkan lokasi usahanya ke lokasi yang lebih strategis yaitu di Jalan Margonda, menciptakan kreativitas dan inovasi pada menu-menunya, serta melakukan manajemen yang lebih baik yang didukung oleh investor. Tingkah laku pengambilan risiko merupakan deliberative risk taking atau tingkah laku  pengambilan risiko yang mana para pengambil risikonya telah melakukan pertimbangan secara sadar tentang bagaimana mereka harus bertindak dan telah memperhitungkan konsekuensi serta kemungkinan hasil yang akan mereka peroleh (Yates, 1994). Hal inilah yang telah dilakukan oleh Pak Rachmat yang membuat usahanya terus berkembang.
Usaha Pak Rachmat ini terus mengalami perkembangan karena didukung oleh adanya sarana umpan balik, orientasi masa depan, dan pemfokusan pada nilai prestasi dibandingkan nilai uang.  Seperti yang dijelaskan Zimmerer (dalam Kasmir, 2007) bahwa karakteristik yang dimiliki oleh seorang wirausaha antara lain adalah memiliki hasrat untuk bertanggung jawab terhadap usaha yang mereka jalani, pemilihan resiko yang sedang (mereka adalah pengambil risiko yang penuh perhitungan), memiki hasrat untuk umpan balik yang segera, memiliki tingkat energi yang tinggi, berorientasi masa depan, memiliki keahlian mengorganisir, dan memiliki nilai pada prestasi melebihi uang.
Sarana umpan balik tersedia melalui internet yaitu berupa web blog yaitu http://www.bisnisespocong.blogspot.com. Umpan balik ini menjadi pedoman untuk Pak Rachmat dalam mengadakan perbaikan dan peningkatan dalam usahanya. Pandangan bahwa nilai prestasi sebagai sesuatu yang lebih berharga dibandingkan nilai uang dapat dilihat dari harga Es Pocong yang masih bisa terjangkau oleh masyarakat dan adanya usaha peningkatan prestasi yang sudah dilakukan oleh Es Pocong.
Selain konter di Depok (Pusat), Es Pocong juga membuka cabang di Pondok Labu, Bekasi, Cijantung, Solo (Jawa Tengah), Cileduk dan lainnya. Di antaranya adalah Konter Waralaba. Lebih dari 12 TV Nasional (RCTI, SCTV, Indosiar, Trans TV, Trans 7, TVRI, TPI, JAK TV, O Channel, Global TV, Elshinta TV) dan TV lokal (JTV, CBTV) bahkan TV Internasional seperti televisi VOA America, menayangkan profil usaha Es Pocong di berbagai program. Majalah Nasional dan surat kabar nasional beroplag besar pun memuat berita tentang usaha Es Pocong, seperti Harian Kompas, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Anggun, Kartika, Kartini, Saji, Sedap, Citacinta, Tabloid NOVA dan masih banyak lagi. Begitu pula dengan Radio dan Website, tak henti-hentinya menginformasikan tentang keberadaan usaha Es Pocong ini (http://www.bisnisespocong.blogspot.com).






DAFTAR PUSTAKA

http://www.bisnisespocong.blogspot.com

Kasmir. (2007). Kewirausahaan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Saidi, W & Hartati, S. (2008). Kewirausahaan. Jakarta: Enno Media

Yates, L.F. (1994). Risk Taking Behaviour. New York: John Wiley & Sons